Minangkabau

Bagian – Bagian Tertentu dari Rumah Minangkabau yang Khas


Seluruh ruangan Rumah Gadang merupakan ruangan lepas, kecuali kamar tidur. Bagian dalam terdiri dari lanjar dan ruang. Ruang berderet dari kiri ke kanan ( hitungan ganjil). Lanjar berjajar dari depan ke belakang. Rumah Gadang berlanjar empat disebut juga lanjar empat atau lanjar tepi, karena ruangan ini terletak di tepi dinding sebelah depan (lanjar kehormatan).

A. Ruangan Depan Rumah Gadang

Ruang depan berada di lanjar depan. Pada rumah berlanjar tiga, ruang depannya adalah pada lanjar ketiga. Lanjar ketiga pada rumah berlnjar empat merupakan lanjar tengah. Beberapa fungsi ruangan depan :
a. Tempat duduk mamak rumah
b. Tempat menerima tamu laki-laki
c. Tempat tamu terhormat
d. Tempat duduk laki-laki dewasa keluarga saparuik
e. Sebagai ruangan keluarga.

B. Ruangan Tengah Rumah Gadang

Ruang tengah merupakan lanjar kedua, yang digunakan sebagai tempat khusus penghuni kamar. Luas ruangan yang digunakan adalah seluas lanjar yang ada di hadapan kamar mereka. Lanjar yang terletak pada bagian dinding sebelah belakang terdiri dari kamar – kamar.

Ruang tengah merupakan lanjar kedua berfungsi untuk :
  1. Tempat khusus penghuni rumah
  2. Menerima tamu perempuan
  3. Tempat ruang makan
  4. Tempat perjamuan pada hari – hari istimewa.
  5. Tempat rapat keluarga

Di sebelah kiri kanan ruangan disebut Anjuang. Anjuang adalah kamar di sebelah kanan kiri ruangan yang lantainya ditinggikan dari rumah. Anjuang sebelah kanan dijadikan sebagai kamar untuk paramedis, sedangkan pada anjung sebelah kiri digunakan sebagai tempat kehormatan bagi penghulu pada upacara adat dan untuk meletakkan peti – peti penyimpanan barang berharga milik kaum.

Kamar yang terletak di ujung rumah sebelah kanan adalah untuk para gadis, dan sebelah kiri untuk pengantin baru.


C. Ruangan Dapur Rumah Gadang

Ruangan dapur biasanya dibuat terpisah dari rumah gadang yang dibangun di belakang atau di sebelah ujung rumah. Antara ruangan dapur dan Rumah Gadang dihubungkan oleh sebuah pintu keluar  masuk penghuni Rumah Gadang dan pergi ke sawah dan ladang (tapian tempat mandi).

Dapur adalah ruangan untuk mengolah masakan dan mempersiapkan makanan bagi anggota keluarga, atau tempat mempersiapkan suguhan bagi tamu.

Tata Krama Tertentu di Rumah Gadang

A. Duduk di Rumah Gadang

Duduak baselo untuk laki – laki, dan duduak basimpuah untuk perempuan. Orang tua memberi pendidikan tersebut kepada anak-anaknya, sesuai ungkapan ketek taraja-raja, lah gadang tabao-bao, lah tuo tarubah tidak, lah gaek jadi parangai.

Duduk di Rumah Gadang dilarang untuk :
  1. Menegakkan lutut
  2. Mengangkat kaki
  3. Gelisah saat duduk
  4. Berputar ke kiri atau ke kanan

Mamak atau lelaki dewasa duduk di ruang tepi membelakangi halaman menghadap ke ruang tengah dengan tujuan mengawasi kamanakan sesuai ungkapan kok siang dicaliak-caliak kok malam didanga-danga.

Tungganai duduk pada lanjar paling depan pada ruang sebelah ujung, berhadapan dengan kamar para medis.

Sumando duduk di ruang tengah membelakangi kamar menghadap ke halaman, karena sumando bukan orang saparuik, melainkan tamu terhormat yang merupakan abu diateh tunggua di atas rumah, ia bisa bertahan bila angin tidak kencang

Ipa bisan duduk di lanjar paling depan tempat dihadapkan kamar istri laki-laki yang menjadi kerabat tamu tersebut.

B. Berbicara di Rumah Gadang

Bila perempuan mendatangi Rumah Gadang, ia harus berseru terlebih dahulu di halaman. Bila laki-laki mendatangi Rumah Gadang, ia harus mendehem terlebih dahulu di halaman.
Berbicara di Rumah Gadang haruslah sopan. Berbicara lemah lembut dan bergantian. Jangan berbicara jika masih ada yang berbicara.

Bila menyebut nama orang lain, panggillah nama atau gelarnya sesuai ungkapan ketek banamo gadang bagala. Berbicara di Rumah Gadang haruslah dengan tenggang rasa yang tinggi sesuai ungkapan raso jo pareso.

Dalam berbicara haruslah memperhatikan sopan santun, kasih sayang dan penuh nasehat, penuh kearifan serta penuh makna. Di Rumah Gadang berlaku kato nan ampek; mandaki, manurun, malereng, mandata.

C. Berbuat dan Bertindak di Rumah Gadang

Rumah Gadang dianggap rumah suci. Oleh karena itu berlaku tata krama dalam berperilaku di Rumah Gadang. Bila ingin ke Rumah Gadang, setiap orang harus membasuh kakinya terlebih dahulu. Biasanya di bawah tangga disediakan sebuah batu ceper yang lebar yang disebut Batu Talapakan. Di samping batu talapakan tersedia tempat air dari batu yang disebut Cibuak Mariau. Untuk mengambil air dari dalam cibuak, digunakan timba yang terbuat dari kayu yang bernama Tariang Bapanto.

Pada hakekatnya, setiap perbuatan dan tindakan di Rumah Gadang ada aturannya dan norma yang mengaturnya. Sesuai dengan ungkapan malabihi ancak-ancak mengurangi sio-sio.

Rangkiang di Samping Rumah Gadang


Rangkiang adalah bangunan kecil yang merupakan tempat menyimpan padi milik kaum. Rangkiang berasal dari kata Ruang Hinyang Dewi Sri yang kemudian terubah bunyi menjadi Rang-Kiang. Dewi Sri dianggap dewi padi.

Rangkiang berjejer di halaman depan Rumah Gadang. Rangkiang terdiri dari 4 jenis : Rangkiang Sitinjau Lauik, Rangkiang Sibayau-bayau, Rangkiang Sitangguang Lapa, Rangkiang Kaciak.

Rangkiang Sitinjau Lauik bentuknya lebih langsing dengan 4 tiang, berfungsi untuk menyimpan padi yang akan digunakan, untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibuat sendiri.

Rangkiang Sibayau-bayau lebih gemuk dengan 6 tiang, berfungsi untuk menyimpan padi yang akan digunakan untuk makanan sehari-hari.

Rangkiang Sitangguang Lapa berbetuk segi dengan 4 tiang, berfungsi untuk menyimpan padi cadangan.

Rangkiang Kaciak tidak bergonjong , lebih kecil dan rendah, bundar dengan 4 tiang. Berfungsi untuk menyimpan padi abuan. Padi abuan yaitu padi yang khusus disediakan untuk benih dan persediaan dalam pembiayaan dalam persawahan.


Pencak Silat Sebagai Permainan Anak Nagari Minangkabau



Pencak silat adalah usaha yang dilakukan manusia baik jasmani maupun rohani untuk membela diri dari malapetaka. Pencak adalah gerak dasar beladiri yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan, dan pertunjukan. Silat adalah gerak beladiri yang bersumber dari kerohanian yang suci guna keselamatan diri manusia dari bencana, tenung, dan kejahatan lainnya. (1993; Tugu, Bogor)

Motto seorang pesilat adalah musuah indak dicari basuo pantang diilakkan. Pencak silat sudah ada di Minangkabau sebelum masuk ajaran Islam. Agustiar Idris (1993) mengemukakan bahwa silat di Minangkabau dapat digolongkan menjadi :

a. Silek Limbago

Dipelajari dan dikembangkan oleh para penghulu dan pemangku adat. Seorang penghulu haruslah fasih lidahnya (tahu dihereng dan gendeng), kuat, tegar dan berwibawa sehingga mampu membimbing anak kemenakan.

Lambang dari Silek Limbago :
Mancancang tak badarah, malompek tak babunyi, mahariak tak basuaro.

b. Silek Biaro

Dipelajari dan dikembangkan oleh para pendeta Budha di biara. Diajarkan dengan tangan kosong dan menggunakan senjata toya atau pedang.

c. Silek Dubalang

Dipelajari dan dikembangkan oleh para dubalang. Terkenal keras yang bertujuan menegakkan hukum dan undang-undang, perisai atau paga nagari dan penakluk musuh.

Motto silat Dubalang yaitu :
Mancangkam badarah, manikam tabuak, manyapu rabah, tapi tenggang alam jo isinyo.

d. Silek Parewa

Dipelajari dan dikembangkan oleh manusia-manusia yang hidup di lorong kehidupan yang tidak terpuji. Bersifat ganas dan buas bergelimang ilmu hitam.

Silat memiliki empat gerak dasar yaitu langkah, elah, tangkap dan serang.

1. Silat Kumango

Diajarkan pertama kali oleh Syekh Abdurrahman Alkhalidy yang terkenal dengan nama Syekh Kumango. Beliau lahir pada tahun 1812 dan mengajarkan silat pada tahun 1862 ketika usianya 50 tahun. Beliau wafat tahun 1932.
Dasar silat ini adalah agama dan akal. Silat Kumango mempunyai dua kelompok besar yaitu gerak dasar dan gerak lanjut. Hukum silat Kumango : hidup jo langkah mati jo langkah. Langkah ini disebut langkah tuo atau langkah ampek.

Dasar silat Kumango ada 12 macam yaitu langkah, cakak, pisau, rambah, cancang, ampang, patah tabu, antak siku, kabek, sandang, ucak tangguang, ucak lapeh.

Manfaat Pencak Silat yaitu :
  1. Pertunjukan
  2. Bela diri
  3. Melatih fisik dan mental
  4. Membina hubungan sesama
  5. Menghindari perkelahian

Syafruddin Sulaiman (1993) meyatakan bahwa silat Minangkabau yang masih asli adalah menampa manusia berbudi pekerti yang baik, hormat sesama, suka menolong, rela berkorban, rendah hati, membela kebenaran dan berani seperti dalam uangkapan musuah indak dicari basuo pantang diilakkan barani karano bana takuik karano salah.

Silat tradisional Minangkabau diajarkan pada malam hari di saat suasana sudah hening dan sepi sesuai ungkapan karantau madang dihulu babuah babungo balun marantau bujang dahulu diruma paguno balun

Pencak Silat Minangkabau makin dikenal di Nusantara setelah meraih Medali Emas pada PON ke 2 di Jakarta tahun 1952 yang diasuh oleh Guru Besar Malin Marajo.

Hakekat Permainan Pencak Silat:
  1. ajaran pendidikan
  2. nilai budi
  3. mengutamakan kepribadian
  4. sesuai ilmu padi

Aneka Tari-Tarian Rakyat Sebagai Permainan Anak Nagari di Minangkabau



Tiga macam tarian :

A. Tarian Pencak

Yaitu tarian yang menyerupai pencak. Tarian Pencak permainannya tidak bersinggungan, diikuti dengan bunyi-bunyian. Gerakan tarian pencak merupakan hubungan antara aksi dengan reaksi. Yang termasuk ke dalam jenis tarian pencak adalah :


a.Tari Gelombang
Biasanya dipertunjukkan pada upacara – upacara besar dan dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan. Gerakan yang dipakai biasanya adalah langkah empat.
b. Tari Sewah
Dilakukan dilakukan 2 atau 3 orang dengan senjata sewah, panjang kerisnya kurang lebih satu hela. Dalam tariannya ada dua orang yang memakai senjata dan yang satunya tidak, yaitu sebagai sasaran.

c. Tari Alo Ambek
Dilakukan oleh 2 orang dengan dua dampiang / janang. Gerakan tari ini mempertunjukkan perlombaan keterampilan menyerang dan menangkis secara bergantian bentuk penyerangan.

B. Tari Perintang

Yaitu tarian yang bertujuan untuk hiburan. Dilakukan dengan bunyi-bunyian da menirukan perilaku alam. Tiga jenis tarian perintang :

a. Tari Piring
Dilakukan dengan meletakkan piring porselen di telapak tangan. Gerakan kakinya disebut dengan Rantak.

b. Tari Galuak
Tari yang mempergunakna galuak (kelapa). Biasanya memperlihatkan gerakan hewan atau petani.

c. Tari Kabau Jalang
Memperlihatkan gerakan kerbau yang sedang menggila.

C. Tarian Kaba

Yaitu tarian yang mengangkat tema cerita (kaba). Pola gerakan penari tidak banyak variasi. Lebih mengutamakan nyanyian dalam tarian. Tiga jenis tarian kaba :

a. Tari Si Kambang
Mempertunjukkan gerakan mengayunkan anak dalam gendongan. Juga disebut Tari Buai-Buai.

b. Tari Ilau
Dimainkan 4 orang lebih. Gerakan berjalan berkeliling membentuk lingkaran. Dimainkan para wanita.

c. Tari Tupai Janjang / Barabah Mandi
Gerakannya lincah. Kaba disampaikan lewat nyanyian yang diiringi musik tradisional. Gerakan menirukan gerakan tupai atau burung Barabah.




Teater Tradisional Randai Minangkabau

Randai adalah kesenian khas Minangkabau yang dilaksanakan dalam bentuk teater arena. Unsur randai yaitu seni drama, suara, tari dan musik. Sumber cerita dalam randai adalah kaba yang bertemakan budi, malu, susila, pendidikan dan menanamkan kesadaran bangsa.

Alat musik randai yaitu talempong, pupuik batang padi, saluang dan gendang. Janang berfungsi membantu tarian dalam randai. Gurindam dalam randai adalah persembahan sebagai salam dan randai mulai.

Pemain berdiri dalam posisi pitanggo serong (sikap pasang kuda-kuda). Dendang berfungsi sebagai pengatur cerita atau penyambung cerita yang terpotong. Sesudah lima legaran, dendang masuk kegiatan yaitu :
  1. persembahan
  2. pengatur adegan
  3. penyampai cerita
  4. pembentuk cerita
  5. penutup cerita

Di dalam pertunjukan randai terdapat beberpa unsur yaitu :
  1. Unsur tari
  2. Unsur dendang
  3. Unsur seni suara
  4. Unsu r sastra
  5. Unsur kerawitan

Seni Gamat Sebagai Permainan Anak Nagari

Gamat adalah permainan tari yang diiringi lagu dan musik. Gamat berasal dari kesenian Melayu. Seperti di Deli, Riau, Negeri Sembilan. Terdiri atas musik, tari dan nyanyian. Jenis tarian yang mengikuti nyanyian gamat :
  1. Tari Payung
  2. Tari Salendang
  3. Tari Saputangan

Gamat berasal dari bahasa gamit, artinya menyentuh seseorang untuk satu keperluan. Syair dalam gamat dinyanyikan dengan irama 4/4 dan bernada diatonis. Syairnya disebut syair spontan.

Seni Tabuik

Acara pertunjukan tabuik lazim disebutdengan pesta. Berkembang di daerah Pesisir Barat Minangkabau terutama di Pariaman. Dilakukan setiap tahun, memperingati kematian Hasan dan Husein. Diperingati 1 – 10 Muharram.



ADAT NAN SABANA ADAT

Defenisi
Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku di alam ini. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan hukum. Dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai adat nan indak lakang karano paneh, indak lapuak karano hujan. Adat ini juga disebut sebagai adat nan babuhua mati. Jadi, adat nan sabana adat ini merupakan ketentuan alam yang bersifat tetap, tidak pernah berubah oleh keadaan tempat dan waktu.

Sumber
Adat nan sabana adat bersumber dari alam. Alam yang bersifat nyata, dan dapat ditangkap dengan indera. Sifat alam yang bersifat permanen itulah yang menjadi sumber dari adat nan sabana adat ini.

Hakikat
Hakikat adat nan sabana adat ialah kelaziman yang terjadi dengan kehendak Allah. Jadi, hukum kelaziman yang bersifat mutlak seperti itulah adat nan sabana adat, yang juga disebut sebagai diasak indak layua, dibubuik (dicabuik) indak mati.

Fungsi
Adat nan sabana adat berfungsi sebagai landasan utama dari norma, hukum dan atura-aturan masyarakat Minangkabau.Semua hukum adat di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana adat.

Selengkapnya...