Science

Loading...

Kamis, 16 Desember 2010

Dalil Tentang Menyantuni Kaum Dhuafa

QS AL ISRA AYAT 26 - 27 MENYANTUNI KAUM DHUAFA
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Dua ayat dimuka termasuk rangkaian beberapa ayat dalam surat al israa yaitu ayat 22 - 39 yang intinya menjelaskan :
hakekat iman dan amal saleh yang apabila diterapkan oleh setiap mukmin berarti ia mempunyai obsesi keahiratan, sehingga ia tergolong orang-orang yang beruntung dalam catatan amalnya dan mujur nasibnya kelak di ahirat (dijelaskan dalam ayat 22 )
perwujudan (manefistasi) dan persartan iman yaitu :
beribadah kepada Allah tanpa sekecilpun berbuat syirik
berbakti kepada kedua orang tua karena sebab perantara mereka adanya kelahiran manusia
 poin tersebut di atas disebutkan secara berurutan dalam ayat 23 seakan Allah mensejajarkan kewajiban hanya saja poin yang terakhir itu di tambah dengan kewajiban mendoakan keduanya yang di jelaskan pada ayat 24
melakukan beberapa jenis ibadah sosial, memiliki dan menerapkan nilai-nilai akhlakul karimah dan menjunjung tinggi norma hukum islam, semuanya itu di rinci dan diuraikan pada ayat 25-39.
khusus pada ayat 26 - 27
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ
nilai kebajikan yang diajarkan pada potongan ayat ini adalah nilai ibadah sosial  memenuhi hak-hak sanak kerabat yaitu dengan membangun hubungan hablumminannas dengan saling membantu sebagai kewajiban bersama setelah itu baru segi ibadah sosial di tujukan kepada kaum fakir miskin dan orang yang kehabisan bekal dalm perjalanan. Orang yang berhak di santuni dalam kategori keduanya adalah termasuk kaum DHUAFA
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا  
setelah menyinggung tentang ibadah sosial maka melalui bagian akhir surat al isra ayat 26 ini Allah telah memberikan batasan larangan "jangalah kamu berlaku tabdzir terhadap karunia rizki yang sudah Allah berikan kepadamu" yang dimaksud tabdzir adalah membelanjakan harta tidak pada tempatnya. Lebih tabdzir lagi membelanjakan harta untuk keperluan maksiat.
 إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
dan tentu saja para pemboros itu adalah kaki tangan setan. karena nikmat rizki yang di berikan oleh Allah kepada mereka bukanlah digunakan untuk sesuatu yang di ridloi malah justru di gunakan untuk berbuat durhaka kepada NYA.
      وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا   
disinilah syetan disebut kafur tidak di sebut dengan sifat-sifat terkutuk lainya karena orang-orang yang menghambur-hamburkan harta untuk keperluan maksiat berarti ia kafur sebagai mana yang dilakukan oleh sytan.

SURAT AL BAQARAH AYAT 177
177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.


Menurut ajaran Agama Samawi, bahwa yang menjadi prinsip bukanlah menghadap kiblat melainkan :
1. Beriman kepadaAllah, hari akhir, para Malaikat, Kitab-Kitab Allah, dan para Rasul (urutan 5 prinsip keimanan ini menurut QS Al Baqarah : 177)
2. Beribadah ritual
3. Beribadah sosial
4. Menjunjung tinggi kesepakatan
5. Bersabar ketika menghadapi kesempitan, penderitaan, dan ketika bedempur di medan perang.

potongan ayat pertama
Rasulullah SAW beserta kaum muslimin mula-mula dalam shalatnya menghadap ke arah Masjidil Aqsha di Kota Baitul Maqdis selama 16 bulan. Kemudian pada tahun 2 H I 224 M turunlah perintah Allah supaya dalarn shalat tidak lagi menghadap ke arah Masjidil Aqsha melainkan ke arah Ka'bah. Pemindahan kiblat ini dipersoalkan oleh kaum ahli kitab, maka terjadilah perdebatan yang panjang sampai memuncak antara kaum ahli kitab dan kuam muslimin. Kaum ahli kitab memandang bahwa shalat dengan menghadap kepada selain kiblat mereka (Baitul Maqdis) tidak akan diterima oleh Allah; Sementara kaum muslimin memandang bahwa shalat itu tidak akan diterima oleh Allah kecuali dengan menghadap Ka'bah, yaitu kiblat Nabi Ibrahim leluhur para Nabi. Ditengah-tengah perdebatan itulah lalu ayat dimuka turun dalam rangka menjelaskan bahwa menghadapkan wajah ke arah kiblattertentu bukanlah suatu kebajikan yang dimaksud dalam agama, karena kiblat ifu semata-mata untuk memelihara kesadaran bagi orang yang shalat bahwa ia sedang bermunajat kepada Tuhannya, berdoa semata-mata kepada-Nya dengan benar-benar berpaling dari segala sesuafu selain Dia. Di samping ifu, kiblat merupakan :
1. simbolkesatuan umat dalam satu tujuan
2. sarana untuk membiasakan orang-orang yang shalat agar selalu bersatu dalam
segala urusan yang menyangkut kepentingan dan tujuan bersama
3. sarana untuk menyatukan langkah di kalangan mereka.

Potongangan ayat kedua
Berdasarkan ayat di muka, yang dimaksud dengan 'AI Birru" (kebajikan)
adalah segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah, yang terdiri dari
iman, amal shaleh dan akhlaqul karimah. Selanjutnya ayat di muka merinci
kebajikan itu sebagai berikut :
1. Beriman kepada Allah, dan inilah yang merupakan dasar dan sumber segala kebajikan. Tentu saja Iman kepada Allah itu tidak akan terwujud jika tidak disertai dengan kemantapan hatibeserta sikap tunduk dan patuh kepada Allah, sehingga tidak satu pun nikmat yang dapat membuat timbulnya sikap kufur, dan tidak satu pun ujian dan bencana yang membuat timbulnya sikapkeluh kesah.
2. Beriman kepada hari akhir. Iman yang kedua ini menimbulkan kesadaran bahwa di sana akan ada kehidupan lain yang di dalamnya tidak ada lagi tuntutan untukberamal, bekerja dan berkarya, melainhan yang ada hanyalah perhifungan amal beserta pembalasannya. Dengan iman yang kedua ini manusia diharapkan agar selalu berhati-hati dalam beramal dan berbuat, dan tidak berlebihan dalam menaruh harapan kepada segala kenikmatan duniawi yang bersifat sementara ini.
3. Beriman kepada para malaikat. Iman yang ketiga ini merupakan dasar keimanan kepada wahyu, terutusnya para Nabi, dan hari akhir. Mengingkari adanya para malaikat berarti juga mengingkari ketiga hal tersebut, karena malaikat pembawa wahyu itulah yang atas izin Allah menyampaikan pengetahuan kepada seorang Nabi tentang segala urusan agama.
4. Beriman kepada kitab-kitab samawi. Iman yang keempat ini mendorong timbulnya kepatuhan terhadap segala perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Karena orang yang sudah yakin bahwa sesuaru itu baik dan bermanfaat pasti akan terdorong untuk melakukannya, dan sebaliknya : orang yang sudah yakin bahwa sesuatu itu jelek dan berbahaya pasti akan terdorong untuk menjauhi dan meninggalkannya.
5. Beriman kepada para Nabi. Iman yang kelima ini mendorong timbulnya keinginan untuk mengiluti pefunjuk-petunjulrrya, dan meneladani segala prilakunya, akhlaknya maupun sikap santunnya.
6. Memberikan harta yang dicintai kepada :
a. Sanak kerabat yg membutuhkan santunan; mereka' inilah yang paling berhak untuk disantuni. Karena manusia itu atas dasar fitrahnya sendiri pasti ikut menderita jika melihat kondisi kemiskinan di kalangan sanak kerabatnya, lebih-lebih jika salah satu di antara mereka meninggal dunia atau menghilang. Dengan demikian, maka orang yang hidup dalam kondisi yang mapan, lalu suka rnemutuskan hubungan dengan sanak kerabatnya dan enggan membanfu mereka, berarti ia melanggar agama dan fitrahnya sendiri. Karena itu dalam sebuah Hadits disebutkan :
" Sedekahmu kepada orang-orang lslam (pahalanya) satui, tetapi kepada sanak
kerabatmu pahalanya dua" .
Sebab bersedekah kepadasanakkerabat ifu berarti melakukan dua macam amal shaleh : bersedekah itu sendiri dan mempererat hubungan famili.
b. Anak yatim; karena anakyang hidup dalam kondisi miskin lantaran tidak punya ayah dan tidak punya penghasilan itu sangat membutuhkan kepedulian dan santunan dari orang-orang yang mampu, agar ia tidak semakin buruk kondisinya dan salah asuhan. Jika kondisinya seperti itu dibiarkan, maka dikhawatirkan kelak menjadi orang yang berbahaya bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat luas.
c. Orang miskin; yaitu orang yang lemah,dalam usaha untuk mencukupi dirinya sendiri.
d. Musafir yg memerlukan pertolongan; artinya musafir yang tidak bertujuan untuk berbuat maksiat atau melakukan tindak kejahatan.
e. Pengemis; yaitu orang yang terpaksa mengemis lantaran amat sangat miskin, bukan lantaran malas bekerja dalam kondisi masih kuat bekerja.
f . Upaya untuk memerdekakan budak; jika dikembangkan lagi maka kebajikan yang satu ini meliputi pemberian santunan kepada para pekerja yang diperas oleh majikannya, terutama pekerja wanita dan anak-anak.
7. Mendirikan shalat dalam arti mengerjakannya dengan cara yang sebaik-baiknya, dan terutna menghayati rahasia maknanya dengan diwujudkan dalarn bentukmenerapkan nilai-nilai akhlqul karimah dan mencegah diri dari berbuat fahsya' (keji) dan munkar.
8, Menunaikan zakat. Kebajikan yang satu dalam Al Qur'an selalu dirangkai
dengan shalat, karena shalat itu merupakan lembaga pendidikan jiwa, sedangkan harta merupakan teman pelipur jiwa. Oleh karena itu, mengorbankan harta untuk kepentingan agama dan umat merupakan salah satu sendi pokok dari segala kebajikan, sehingga para sahabat pada masa I{halifah Abu Bakar menyepakati ketentuan hukurm bahwa pam pembangkang zakat wajib ditumpas.
9. Menepati janji; baik janji kepada Allah maupun janji kepada sesame manusia dalam urusan yang diridlaioleh Allah.
1O. Bersabar dalam kesempitan, penderltaan, dan dalam peperangn.

Ketiga kondisi ini dikhususkan bukan berarti selain dalam kondisi tersebuttidak perlu kesabaran. Orang yang mampu bersabar dalam ketiga kondisi itu tenfunya akan lebih bersabar lagi dalam kondisi yang lain.
.Kesempitan artinva mengalami krisis ekonomi. Jika krisis ekonomi itu sudah demikian parah, maka kebanyakan orang yang mengalaminya mudah menjadi kafir.
.Penderitaan artinya menderita sakit. Jika sakit itu sudah demikian parah, maka biasanyai menyebabkan orang yang mengalaminya menjadi lemah akhlaknya dan mudah putus asa.
.Sementara dlrm kondisi peperangan kebanyakan bisa menimbulkan sikap pengecut kemudian lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran. Orang lebih suka mencarimusuh, tetapi ketika musuh sudah datang dan siap menyerbu ternyata lari ketakutan. Demikian ini menurut ajaran Islam tergolong dosa besaryang sejajar dengan syirik.

Kemudian pada_ akhir ayat di muka ditegaskan bahwa mereka yang mampu menerapkan nilai-nilai kebajikan tersebut di atas dikualifikasikan sebagai orang-orang yang benar imannya, dan dikualifikasikan pula sebagai orang-orang yang bertaqwa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar