Minggu, 06 Mei 2012

Pelajar Apatis Karya Ilmiah

BANDUNG, 3 tahun tidak ada satu pun perwakilan kota Bandung. Prihatin, melihat kecilnya animo pelajar dalam mengikuti lomba karya ilmiah. Sudah kelima kalinya Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Pusair) Jabar menggelar lomba karya ilmiah bagi siswa SMA sederajat di Indonesia. Tapi ternyata, peserta dari Kota Bandung sendiri sangat minim.


Ketua Panitia Lomba dan Peneliti Pusair Ratna Hidayat mengatakan, lomba karya ilmiah kali ini bertema Inovasi Teknologi Pengendalian Sumber Daya Air untuk Menghadapi Perubahan.


“Kota Bandung memang selalu jadi tuan rumah lomba ini. Tapi sudah tiga tahun terakhir, tidak pernah ada finalis atau peserta yang berasal dari Bandung. Kami rasa para siswa di kota ini terlalu sibuk menghadapi persiapan masuk perguruan tinggi negeri,” kata Ratna Hidayat, di Aula Pusair Jabar Jalan Ir. H Juanda Kota Bandung, Selasa (1/5).


Panitia menjaring 10 finalis setelah melakukan seleksi terhadap 390 lebih peserta dari seluruh Indonesia. Di antaranya terdapat perwakilan siswa SMA dari Yogyakarta, Depok, Kendari, Semarang, Palembang, Pasuruan, Pacitan, Walisongo, Kudus, Tangerang Selatan, dan Sumatera Selatan.

“Peserta lomba karya ilmiah ini kami seleksi dengan parameter kriteria bahasa, topik, tema, cara penulisan, ide yang menarik, dan up to date. Lomba ini sengaja diarahkan ke bentuk inovasi sumber daya air,” ujarnya.

Menurut Ratna, para remaja dengan sangat mudah menghasilkan ide - ide segar karena mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tidak heran, tiga di antara 10 finalis telah mampu menyajikan inovasi berbentuk pemanfaatan informasi teknologi (IT).


“Berbeda sekali dengan tahun lalu. Para peserta kini lebih bebas berekspresi dengan merakit game dan animasi. Perangkat lunak tersebut tampak di minati masyarakat, terutama anak - anak untuk menyimak dan teredukasi,” jelasnya.


Di hadapan dewan juri yang terdiri dari perwakilan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Robert Delinom, Kemendikbud Jabar Djuha Supriatna, dan Monica Raharti dari Surya Foundation, para finalis unjuk gigi melalui karya mereka.


“Pemenang harus memenuhi kriteria tertentu yakni bisa menguasai materi, menyampaikan dengan baik, menguasai teknik, dan etika presentasi,” kata Ratna.


Meski belum diputuskan sebagai juara, karya ilmiah berjudul Tetes Air Hujan Sebagai Sumber Energi dan Inovasi Sensor Cahaya Dengan Menangkap Sampah Di Perairan, karya peserta asal Kota Depok, cukup menarik perhatian para juri karena memiliki nilai orisinalitas tinggi.

Tim asal Yogyakarta pun mampu menyita perhatian melalui karya berjudul Aplikasi IT untuk Media Pembelajaran dan Penanggulangan Banjir. “Kami terinspirasi adanya banjir lahar dingin akibat meletusnya Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Selain itu kami juga sangat menyukai main dan membuat game,” ujar Ezzat Chamudi siswa kelas XI SMAN 1 Yogyakarta.

Dalam demonstrasinya game berbasis Macromedia Flash itu, pemain game dapat menggerakkan animasi dan mendapatkan pengarahan soal banjir dengan mengklik setiap pilihan dengan warna - warna menarik.
“Karena aplikasi ini memakai animasi. Kami berusaha menyampaikan edukasi dan informasi soal banjir kepada masyarakat khususnya anak - anak,” jelasnya.



Sumber : INILAH.com Media Cetak "Koran Jabar"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar